Subtansi Pendampingan Desa


Pendampingan masyarakat pada dasarnya adalah suatu aktivitas untuk merubah cara berpikir masyarakat, dari sifat statis-tradisional menjadi dinamis-rasional, melalui proses alihpengetahuan dan alih-kesadaran. Substansi pendampingan adalah terjadinya perubahan perilaku masyarakat.



Komponen perilaku ini merujuk kepada apa yang telah diketahui atau dipahami oleh masyarakat (knowledge), apa yang dapat mereka lakukan (skills), apa yang mereka pikirkan (attitudes) dan apa yang mereka kerjakan (action). Secara sederhana, perilaku terdiri dari 3 domain, yaitu domain perilaku pengetahuan, domain perilaku sikap, dan domain perilaku keterampilan.

Kegiatan pendampingan dilakukan dalam bentuk interaksi secara terus menerus antara pendamping dengan masyarakat yang dilakukan setiap saat. Aktivitas pendampingan memang tidak serta-merta mencapai sasaran dan tujuan yang cepat dan nyata, melainkan dapat dirasakan efek dan hasilnya setelah berjalan cukup lama. Karena itu aktivitas pendampingan perlu dilakukan secara terus-menerus dan intensif sehingga mendukung keberhasilan program-program aksi pengembangan masyarakat.

Aktivitas pengembangan dan pemberdayaan, tidak dapat dipisahkan satu sama lain, melainkan keduanya harus dilakukan secara komplementer (saling melengkapi), yang dilakukan secara sinergis (bersama-sama) antara masyarakat dan pendamping. Dengan demikian, konsep pendampingan dapat diartikan sebagai pembelajaran, penyadaran, atau pembudayaan, yaitu suatu proses pembelajaran masyarakat dalam kerangka penciptaan kesadaran baru untuk mencapai tujuan kemajuan. Perubahan sikap mental yang diperlukan adalah cara berpikir dan perilaku masyarakat untuk mencapai kemajuan. Secara konseptual, perubahan-perubahan yang diperlukan mencakup perubahan dari:

1.   Sikap mental, cara berpikir dan perilaku yang “statis-tradisional” menjadi “dinamismodern dan rasional”;
2.   Kesadaran naif, apatis dan pasif, ke kesadaran kritis dan aktif;
3.   Kesadaran dan kebiasaan konsumtif ke kesadaran dan kebiasaan kewirausahaan, dan;
4. Ketiadaan kelembagaan (organisasi) ke terbentuknya kelembagaan (organisasi) lokal yang produktif dan rasional.

Untuk mendorong terjadinya perubahan tersebut di atas, diperlukan pendekatan alih-pengetahuan-kesadaran, alih-nilai, dan alih-keinginan dan dorongan, yang dilakukan melalui dialog dan sharing secara terus-menerus antara pendamping dan kelompok dampingan.

Diolah dari sumber Modul Pelatihan PLD-PID 2018

Posting Komentar

0 Komentar